Sunday, July 31, 2011

MENDEKATKAN ICT KEPADA GPAI DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM



A. PROFESIONALITAS GPAI

Memilih profesi menjadi guru, harus tertanam dalam jiwa dan menjadi panggilan hati bagi siapapun yang memilihnya. Pilihan ini semestinya menjadi prioritas awal, bukan pilihan antara, apalagi pilihan terakhir. Islam sendiri memberi apresiasi yang tinggi akan profesi guru (Ulama/Mubaligh/Da’i/Ustad), bahkan profesi ini menjadi profesi terbaik di sisi Allah SWT dengan firman-Nya :”Adakah orang (lain) yang paling baik (profesinya) dibanding orang yang mengajak atau menyeru orang lain untuk tetap di jalan Allah SWT dan selalu beramal shaleh … ”

Guru profesional[2] bukanlah sebutan atau julukan yang pasti melekat dengan sendirinya. Profesionalisme seorang guru akan dicirikan oleh tanggung jawab yang jelas dalam tugasnya, paling tidak dengan hal-hal berikut;

1. Tanggung Jawab pribadi; mampu memahami, mengelola, mengendalikan, menghargai, dan mengembangkan dirinya.

2. Tanggung jabab sosial; diwujudkan melalui kemampuan dan memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan interaksi yang efektif.

3. Tanggung jawab intelektual; ditunjukkan melalui penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang tugasnya.

4. Tanggung jawab spiritual dan moral; diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makluk yang beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma-norma akhlak dan moral yang mengacu pada agama dan keyakinan agama yang dianutnya.

5. Tanggung jawab kesejawatan; yakni rasa kebersamaan di antara sesama anggota profesi yang ditunjukkan melalui terbentuknya organisasi profesi.

Berdasarkan landasan tersebut, setiap GPAI harus bekerja semaksimal mungkin, termasuk memperbaiki proses pembelajaran PAI, melalui aplikasi dan pemanfaatan ICT. Perkembangan ICT yang begitu cepat, mendobrak tata nilai dan norma agama. Kondisi ini tentu tidak kita biarkan terjadi, kini terpulang bagi GPAI bersama stakeholder lain, mengantisipasi sisi negatif keberadaan ICT sekaligus mengambil mengambil aspek positif keberadannya.

Eksistensi ICT ditinjau dari sudut kebermanfaatannya, tergantung siapa yang menggunakan, untuk apa dan kemana dipakai, di samping tentu saja landasan motivasinya. Sejalan dengan itu, melalui ICT memberi wisdom lain, yaitu nilai (value) seseorang tergantung besar kecilnya manfaat untuk diri dan orang lain. Semakin banyak orang lain yang memperoleh manfaat atas keberadaannya, berarti orang itu semakin tinggi nilainya.[3]

Ikhtiar membuat rencana yang realistik tentang pemanfaatan ICT untuk peningkatan mutu layanan pendidikan, khususnya mapel PAI, penulis Berpikir Strategis (strategic thinking), biasanya dimulai dari tujuan akhir yang diinginkan (begin with end of mind). yang dikenal juga dengan istilah: Thik Big, Start Small, Act Now[4]. Melalui landasan berpikir ini, penulis mengurutkan tugas ini yang dimulai Berpikir Strategis, Mengurai Paradigma Baru Sistem Pembelajaran PAI, dan Rencana Realistik Pemanfaatan ICT dalam Pembelajaran PAI.

B. BEGIN WITH END OF MIND (VISI)

1. Visi Pendidikan Agama Islam

Boleh jadi di antara Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang idealis, kiat, model, pola, strategi apa dan bagaimana yang perlu dirumuskan dalam ikhtiar mencari hasil terbaik dalam proses pembelajaran PAI sekaligus memberikan mutu layanan (service exelent) melalui pemanfaatan ICT. Selanjutnya, muncul pertanyaan: Dimulai dari aspek mana?. Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis menyodorkan pendekatan dari ilmu manajemen modern, yakni Strategic Thinking.

Jika strategi ini diaplikasikan di dunia pendidikan, maka mulailah merumuskan dan memahami apa visi dan misi dilaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Berpijak dari tujuan akhir pembelajaran itulah yang harus dilakukan dan dijadikan landasan dalam pembelajaran sehari-hari. Hal ini sangat urgen dilakukan, mengingat banyak faktor yang menyertai keberhasilan pendidikan, mulai dari input, proses, maupun output, bahkan khusus di SMK ditambah satu lagi, yaitu outcome. Sedangkan untuk langkah lanjutan adalah menempatkan skala prioritas pada proses pemelajaran di kelas.

Terkait dengan visi dan misi PAI, sebenarnya Islam telah membentangkan rumusannya yang dikenal dengan Insan al-kamil (manusia paripurna) atau dalam kosakata Al Qur’an dikenal dengan Islam Kaffah (QS Al Baqarah {2} : 208).[5] Untuk lebih memahami rumusan tersebut dalam tataran praktis, sub-kajian ini berikhtiar memahami rumusan di dalam Standar Isi (SI)–sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) berdasarkan Peraturan Mendiknas No. 22 dan 23 Tahun 2006.

1. Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

a. Visi Pendidikan Agama Islam adalah :Terwujudnya Keagamaan dan Terbinanya Keberagamaan Peserta Didik yang Sempurna (Kaffah) pada Jenjang Pendidikan Menengah (SMK dan SMA)

b. Misi Pendidikan Agama Islam adalah :

1) Membentuk peserta didik yang memiliki iman yang fungsional dan berkesinambungan dalam beribadah kepada Allah SWT

2) Membekali peserta didik yang mempunyai etos kerja yang Islami dan membentuk kepribadian yang berakhlakul karimah

3) Menumbuhkan suasana keagamaan di sekolah yang Islami, dilandasi toleransi dan kedamaian yang hakiki

Tersimpul dari beberapa rumusan tersebut, bahwa tujuan utama pembelajaran adalah membentuk siswa yang beragama secara kaffah dalam seluruh sendi kehidupan. Profil keberagamaan peserta didik yang imannya fungsional dalam perilaku sehari-hari. Dengan kalimat yang sederhana, profil siswa yang pinter bener atau bener pinter.

C. ISLAM DAN PEMANFAATAN ICT

ICT merubah banyak hal, termasuk dalam dunia pendidikan. Melalui ICT, nilai seseorang tidak tergantung kepada status, harta dan pangkatnya. Tetapi, sejauh mana seseorang ini memiliki nilai tambah atau kebermanfatannya bagi orang bayak. Hal ini sejalan dengan tuntunan agama yang menyatakan: Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya (value) bagi orang banyak.[8]

Eksistensi ICT sendiri laksana pedang bermata dua. Maknanya, ia memiliki sisi positif dan negatif. Untuk itu, fungsi dan peran GPAI yang sarat tata nilai dan norma, memiliki aspek yang signifikan dalam memberikan rambu-rambu dalam aplikasi pemanfaatan ICT bagi peserta didik. Sebab, kini siapakah pihak yang mampu meredam malpraktik atau penyalahgunaan ICT bagi peserta didik, jika sarana ICT sendiri sudah berada di genggaman peserta didik, kecuali tergantung kedalaman dan kekokohan iman dan taqwanya kepada Allah SWT.

Ilmu secara potensial sangat konstruktif atau destruktif. Tergantung siapa dibalik ilmu dan sistem nilai yang dianutnya. Pada titik inilah terjadi diskursus yang sangat intens, antara ilmuan yang pro Islamisasi Ilmu dan yang kontra. Membiarkan ilmu, termasuk di dalamnya teknologi, tanpa pengawalan dan berbasis tata nilai yang benar, tentu akan sangat merisaukan dan membahayakan, mengingat kekuatannya yang sangat besar.[9]

Pada prinsipnya, penggunaan ICT atau TIK tidak dilarang, bahkan dianjurkan dalam Islam sepanjang untuk kebaikan dan kemaslahatan. Di luar koridor itu, tentu tidak boleh apalagi mengarah kepada kemaksiatan, membuang-buang waktu, ajang gosip, mengabaikan yang prioritas dan kewajiban, lupa akan tata nilai yang benar, dan ekploitasi sex atau kejahatan.

Tidak terpaut lama waktunya, baru-baru ini terjadi topik hangat dibicarakan terkait dengan pemanfaatan teknologi, yaitu Facebook atau situs jejaring sosial. Mulanya dipicu fatwa haram penggunaan Facebook, Friendster atau situs semacamnya yang dikeluarkan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur di Pesantren Lirboyo Kediri[10]. Akibatnya, polemik pun merebak.

Alasan yang dijadikan argumen FMPP adalah keprihatian atau kerisauan para ulama, karena menganggap situs-situs bisa membawa madharat umat Islam, khususnya generasi muda. Sementara kalangan yang kontra, menyampaikan perlunya umat Islam menyikapi permasalahan ini dengan lebih jernih dan mendalam, yaitu mendudukkan sesuatu itu pada porsinya. Facebook atau semacamnya adalah bagian dari teknologi, sekarang tinggal umat ini menyikapinya dengan benar.

Islam tidak alergi dengan teknologi, karena banyaknya ilmuan Muslim yang memberi kontribusi positif sepanjang sejarah peradaban manusia, Islam tidak sepi dari teknologi. Negara Barat semestinya harus berterima kasih kepada Islam. Banyak tokoh Barat banyak yang mengakui realitas tersebut, meskipun harus diakui juga mayoritas ilmuan Barat berupaya untuk menutupinya. Peradaban Islam, tidak bisa ditutupi, karena sudah jelas sumbangsinya, apakah kalangan Barat selamanya menutupinya. Tidak bisa! Karena, atsar dan realitas empiris peradaban Islam berada di depan rumahnya sendiri, ambil misal betapa indahnya arsitektur Instana Singa (Court of Lions) di Al Hamra, Masjid dan Perpustakaan Cordova di Spanyol.[11]

Intinya, Islam tidak menabukan teknologi. Agama dan teknologi bisa saling melengkapi. Agama memberikan rambu-rambu hidup, sehingga setiap manusia mampu membedakan mana yang boleh dan tidak boleh, sepatutnya atau tidak sepantasnya dilakukan. Sejalan dengan itu, peran iptek dapat meperlancar, mempermudah dan meringankan banyak hal yang dibutuhkan manusia.

Teknologi, hakikatnya bagian dari ijtihad manusia. Sementara Islam sendiri sangat menganjurkan adanya ijtihad dalam berbagai aspek kehidupan (tentu bukan pada aspek Qath’i, tetapi yang Dhanni). Eksistensi ijtihad, salah satunya bertujuan untuk memudahkan manusia menjalani kehidupan, kini tinggal bagaimana sikap umat ini terhadap ilmu berikut teknologinya.

D. Pemanfaatan ICT dalam Pembelajaran PAI

Dunia ICT kini memberikan banyak pilihan kepada semua orang. Tak terkecuali Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI). Misalnya e-dukasinet/pembelajaran berbasis internet, penggunaan telematika, e-learning, blog, multimedia resources center, teknologi pembelajaran melalui komik, dan vidio conference[12].

Kini tinggal GPAI memilih teknologi yang dikuasainya, banyak pilihan yang perlu dipilih. Namun, setiap pilihan membawa konsekuensi tersendiri, karena ia bertalian dengan sarana yang di sekolah, termasuk yang dimiliki sendiri oleh GPAI. Secara umum, jenis bahan ajar yang dapat dipilih adalah:

1. Bahan ajar pandang (visual) terdiri atas bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, dan non cetak (non printed), seperti model/maket.
2. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio.
3. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film.
4. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).

Memperhatiakan semua uraian tersebut, sekaligus mendasarkan TUPOKSI GPAI, maka perlu dirumuskan Rencana Strategis (RENSTRA) dalam pemanfaatan ICT menuju hasil pembelajaran PAI yang berkualitas. Hal ini perlu dilakukan, karena tanpa perencanaan, ikhtiar mendekatkan ICT kepada GPAI mengalami kendala yang tidak sedikit. Terkait dengan hal ini, GPAI tentu tidak sendirian dalam mendesain kegiatan ini, karena ini kerja besar dan berat untuk dilakukan.

Desain kegiatan dapat dilakukan bersama, misalnya dengan Kelompok Kerja Guru (KKG, untuk jenjang SD), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP, untuk jenjang SLTP atau SLTA), termasuk juga dilibatkan Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII, yang menggabungkan GPAI mulai jenjang SD, SMP, SMA dan SMK). Jangan lupa, dilibatkan juga instansi terkait, baik vertikal maupun horisontal. Tentunya Renstra ini harus realistis dengan mempertimbangkan segala hal.

Renstra ini difokuskan pada TUPOKSI GPAI terkait dengan pemanfaatan ICT, sekaligus segala ikhtiar yang dilakukan agar menggapai tujuan pembelajaran PAI yang berkualitas. Rentang waktu Renstra merujuk ke periode 5 tahun, maka Renstra ini pun mengikuti rentang waktu tersebut. Renstra ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

No

Jenis Kegiatan

Tahun


2011

2012

2013

  1. Penyusunan dan pelaksanaan instrumen Pembelajaran PAI (Silabus, RPP, Modul Bahan Ajar, Sistem Penilaian dan Analisis Instrumen Penilaian). Ini menjadi bagian tugas guru

Tersusunnya semua perangkat pembelajaran mulai Silabus sampai Analisis Instrumen Penilaian yang sudah dientri melalui komputer

· Tersedianya dan terlaksananya pembelajaran yang mengacu pada Bahan ajar pandang (visual) terdiri atas bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, dan non cetak (non printed), seperti model/maket.

· Tersedianya dan terlaksananya pembelajaran yang mengacu pada Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio.

Tersedianya dan terlaksananya pembelajaran yang mengacu pada Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film.

Tersedianya dan terlaksananya pembelajaran yang mengacu pada Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).

Sistem Pembelajaran PAI sudah berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di mana setiap saat siswa bisa mengakses segala hal yang terkait dengan perencanaan, proses dan hasil pembelajarannya

  1. Kegiatan Mentoring/Tutorial Sebaya. Ini bagian tugas Mentor

Mentor dibimbing oleh GPAI untuk menyusun silabi mentoring yang sudah dientri melalui komputer

Mentor dibimbing oleh GPAI untuk menyampaiakan materi mentoring dalam bentuk power point dan menti sudah diberi tugas tentang materi mentoring dari media cetak dan elektronik, termasuk melalui intenet

Mentor sudah mengambil inisatif sendiri untuk menyampaiakan materi mentoring berbasis Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film

Mentor sudah mengambil inisatif sendiri untuk menyampaiakan materi mentoring berbasis Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk

Sistem mentoring sudah berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di mana setiap saat siswa bisa mengakses segala hal yang terkait dengan perencanaan, proses dan hasil mentoringnya

  1. Kegiatan Mandiri Siswa. Ini bagian tugas siswa

Siswa dibimbing oleh GPAI untuk menyelesaikan tagihan, tugas kegamaan di sekolah sudah berbasis komputer

Siswa dibimbing oleh GPAI untuk menyelesaikan tagihan, tugas kegamaan di rumah sudah berbasis komputer

Siswa dibimbing oleh GPAI untuk menyelesaikan tagihan, tugas kegamaan di masyarakat sudah berbasis komputer

Siswa dibimbing oleh GPAI untuk menyelesaikan tagihan, tugas kegamaan di sekolah, rumah dan masyarakat sudah berbasis komputer

Sistem Kegiatan Mandiri Siswa sudah berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di mana setiap saat siswa bisa mengakses segala hal yang terkait dengan perencanaan, proses dan hasil kegiatan mandirinya

Berdasarkan Renstra tersebut, membutuhkan banyak kolaborasi dan kerjasama dengan berbagai pihak. Tentu saja pula, dana dan sarana lain perlu mendapatkan perhatian, sehingga segalanya dapat berjalan sesuai dengan asa dan rencana. Apa yang penulis tuangkan ini, berdasarkan pengalaman sehari-ahari penulis dalam proses pembelajaran PAI. Namun, harus diakui pemanfaatan ICT dalam proses pembelajaran PAI tidak sepenuhnya dilakukan secara berkesinambungan, karena sarananya sendiri belum memungkinkan.

Meskipun begitu, penulis telah melakukan upaya yang maksimal dalam pemanfaatan ICT yang harus dilakukan oleh siswa, baik dalam kegiatan Mentoring dan Kegiatan Mandiri.[13] Dengan demikian, hasil kolaborasi antara sistem pembelajaran PAI dengan pendekatan baru yang inhern di dalamnya adanya pemanfaatan ICT, semuanya memberi andil yang sangat bermakna dalam mencapai hasil yang maksimal menuju terbentuknya peningkatan iman dan taqwa, semangat beribadahnya tinggi, etos kerja semakin tangguh, serta berkepribadian Islami dalam lingkup kesehariannya, serta selalu memantulkan pribadi yang akhlakul karimah untuk semua siswa atau peserta didik.

No comments: