Saturday, November 12, 2011

HAJI DATUK SULAIMAN, PANGERAN BIMA DI TANAH RANTAU

Mungkin kita sudah banyak tahu bahwa dari beberapa tulisan sejarah yang menyatakan tentang keabsahan Diponegoro sebagai keturunan Raja Bima. Dalam buku Sejarah Bima Dana Mbojo jelas terurai dengan apik oleh Alm. H. Abdullah Tajib tentang Pangeran Diponegoro. Pada catatan kaki buku berjudul Asal Usul Perang Jawa karangan Dr. Peter Carey tertulis :

“Moyang  perempuan Dipanegara, Ratu Ageng ( Tegalrejo ) ( C. 1735 - 1803 ) adalah putera Ki Ageng Derpayuda, Kyai termashur pada awal abad 18 yang berdiam di kawasan Sragen di dekat Surakarta. Melalui Ibunya Ni Agung Derpayuda ratu Ageng ( Tegalrejo ) dilahirkan dalam generasi Ketiga dari Sultan Bima di Sumbawa, kesultanan di Indonesia bagian Timur yang tersohor ketaatannya pada agama Islam. Karena itu dalam diri Dipanegara mengalir darah Madura ( dari neneknya ratu Kedhaton  yang meninggal tahun 1620) dan darah Bima”.

Yang menarik sesungguhnya bukan pada keberadaan Pangeran Diponegoro sebagai turunan dalam transmisi genetik Raja Bima. Melainkan pada sosok fenomenal misterius bernama Sulaiman. Untuk sekedar diketahui, dalam Sejarah Nganjuk (Kerajaan Berbek dan Godean), nama Sulaiman juga muncul. Kali ini dengan sebutan Haji Datuk Sulaiman, dan dalam silsilah tersebut beliau didudukkan pada posisi pertama. Pada dokumen lain yang berasal dari Raja-Raja Mataram ada disebutkan : “ Kyai Suleman Bekel Jamus ( Surakarta ) adalah putera raja Bima dan lahir 1601”. Dokumen ini memberikan petunjuk bahwa dalam abad 17 di Kerajaan Mataram terdapat putera Raja Bima yang sedang mengabdi di sana. Dihubungkan dengan tulisan Dr. Peter Carey, maka kedua dokumen itu saling mengukuhkan dan membenarkan.

Dari uraian tersebut menjadi kian jelas, bahwa Sulaiman yang muncul dalam transmisi silsilah Diponegoro dengan silsilah para pemimpin Berbek-Godean adalah sosok yang sama. Dan Ratu Kedhaton yang dipersunting oleh Kyai Sulaiman tersebut ialah puteri dari Kyain Wiroyudo.

Siapa sesungguhnya Kyai Sulaiman ini ?


Untuk menelusuri asal-usul Kyai Sulaiman, saya menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan fenomenologis dan pendekatan kritik teks. Secara fenomenologis, saya akan sampai pada kesimpulan bahwa Sulaiman adalah anak dari Sultan Abdul Kahir I, sedangkan kritik teks silsilah mengarahkan saya pada kesimpulan bahwa Sulaiman adalah anak dari Tureli Belo, masih dalam lingkup bangsa Rato Cingi.


Dugaan Pertama : KYAI SULAIMAN ADALAH PUTERA DARI LA KAI

Untuk melacak transmisi genetik Kyai Sulaiman dalam silsilah Raja Bima, maka kita perlu menggarisbawahi beberapa hal, yaitu :

  • Dari LAMPIRAN V BO’ Sangaji Kai tertulis bahwa Abdul Kahir Mantau Bata Wadu diperkirakan lahir pada tahun 1583, kawin dengan Daeng Melu, dan wafat pada sekitar 22-12-1640. (Saya cenderung menduga kalau Abdul Kahir mangkat di usia renta, sekitar ±65 tahun, buktinya adalah penghormatan Kesultanan kepada beliau dengan menempatkan makamnya di atas bukit Danatraha). 
  • Masa pemerintahan Sultan pertama, Abdul Kahir, hanya samar diketahui. Setelah Bima dikalahkan dua kali oleh armada Makassar tahun 1618 dan 1619. 
  • Raja Bima masuk Islam pada tanggal 7 Februari 1621 (Noorduyn 1987a : 317, 319); saya sendiri menduga kalau tanggal ini adalah waktu penyerahan diri seorang pemimpin Hindu-Syiwa di Nagari Bima, yang bersedia masuk Islam setelah kalah dari Makassar, sekaligus berakhirnya masa kekuasaan Bima Nagari ditandai pengukuhan Abdul Kahir sebagai Sultan Bima oleh Raja Goa Alauddin. (Baca juga : TAFSIR FITUA TENTANG KUDETA NAGARI BIMA)
  • Tahun 1632 terjadi perang besar ketika sebahagian masyarakat Bima dibantu oleh Raja Dompu menyerang Abdul Kahir, dan selanjutnya tahun 1633 sebuah kapal Belanda yang melewati perairan Bima melihat semua sawah, rumah dan desa dibakar dan dihancurkan oleh armada Makassar sebesar 400 perahu dan ribuan orang. 
  • Pada tahun 1640 Abdul Kahir mangkat, dan diganti di atas tahta kerajaan oleh anak yang diperoleh dari perkawinannya dengan putri Makassar. Sultan baru digelarkan dengan nama Abi’l Khair Sirajuddin, namun ketika diangkat sebagai Sultan, dia baru berumur 11 tahun. (Berarti Abi’l Khair Sirajuddin diperkirakan lahir pada tahun 1629 M)

Dari petunjuk di atas dapatlah kita uraikan kemunculan Kyai Sulaiman sebagai berikut :
  1. Dalam postingan lain saya menulis bahwa La Kai sejak awal adalah seorang muslim yang tinggal di belahan lain wilayah Nagari Bima, dalam artian bahwa pada masa pemerintahan Nagari Bima Hindu, sebenarnya di Bima sudah ada perkampungan muslim awal yang dirintis oleh pedagang-pedagang Arab yang singgah dan menetap di sana. (Lihat : SALISI DAN LA KAI)
  2. Konsolidasi awal La Kai dan Dato’ Ri Bandang untuk mengambil alih kekuasaan Nagari Bima sudah dimulai pada tahun 1609 M. Pada masa ini, La Kai sudah menjadi seorang kepala keluarga, dan telah dikaruniai anak, mungkin usia La Kai sekitar ±25 tahun. 
  3. Pernikahan antara Abdul Kahir dengan saudara ipar Sultan Alauddin adalah usaha untuk merekatkan kekerabatan dua kebudayaan, yang sudah dipersatukan dalam semangat ideologi kerajaan yang sama, yakni Islam. Dan di sini, peran para mubalig Melayu masih dominan. 
  4. Kemungkinan besar, La Kai memiliki isteri pertama yang melahirkan anak-anaknya yang lain. 
  5. Pada saat Nagari Bima mulai memasuki kemelut di awal tahun 1609 M, putera-putera Abdul Kahir masih kecil (Abil Khair Sirajuddin belum lahir), dan pada masa ini Nagari Bima masih menjadi Kerajaan Hindu yang kuat. 
  6. Sekira di atas tahun 1610 M, Abdul Kahir sudah membangun kontak dengan Raja Goa yang lebih dahulu sudah merubah statuta Kerajaannya menjadi Kesultanan. Kontak ini difasilitasi langsung oleh Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Tiro. 
  7. Ketika pada tahun 1618 dan 1619, armada Makassar mulai menyerang Nagari Bima (Hindu), dan sejak saat ini konstalasi kemelut di Bima terus meningkat. Tahun 1633, armada Makassar menyerbu Bima secara sporadis karena masih adanya pemberontakan dan pembangkangan karena tidak mengakui kepemimpinan Sultan Abdul Kahir sebagai Raja baru mereka, apalagi pemberontakan orang-orang Bima tersebut diback-up oleh Raja Dompu yang pada masa itu mungkin menjadi Kerajaan eks Majapahit yang tersisa.
Setelah dikukuhkan menjadi Pemimpin baru nagari Bima pada tahun 1621, Abdul Kahir harus menghadapi pergolakan dan guncangan-guncangan sosio-politik domestik. Meski Makassar berada di belakangnya, namun itu bukan berarti bahwa Abdul Kahir sudah aman dari pemberontakan. Di satu sisi, dia sudah harus berpikir untuk  mempersiapkan seorang pengganti jika kelak dirinya sudah tiada. Karena itulah, Abdul Kahir memutuskan untuk mengirim Sulaiman ke Jawa, agar belajar dan memperdalam ilmu agama Islam di sana. Mungkin sebahagian dari kita bertanya; kenapa tidak diutus ke Goa (?). Jawabannya sederhana saja, karena Goa pada masa itu juga baru merintis sebuah Kerajaan Islam, sehingga belum ada pusat-pusat pesantren untuk memperdalam ilmu agama, terlebih lagi para Ulama sebagai guru yang menguasai ilmu Islam hanya berpusat di Jawa dan Malaka, sedangkan di Jawa selain terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan di Nusantara, juga di sana sudah tersohor keberadaan pesantren Kasunanan Giri.

Di sanalah kemudian, Sulaiman belajar dan menunjukkan kedalaman pengetahuan agamanya. Kepergian Sulaiman sepertinya juga direstui oleh sahabat sekaligus guru spiritual Ayahnya, yakni Datuk Ri Bandang, karena konon Datuk Ri Bandang adalah salah satu murid dari panembahan Giri yang berasal dari Pagaruyung Minangkabau (beliau diutus untuk membantu proses dakwah di kerajaan-kerajaan tengah seperti Bima dan Goa). Itulah sebabnya, kenapa kemudian di depan nama Sulaiman dicantumkan gelar Haji Datuk Sulaiman; karena sepertinya Sulaiman hadir ke Jawa dengan menyebut dirinya sebagai putera Raja Bima sekaligus kerabat Datuk Ri Bandang, dan kemungkinan besar di penghujung masa hidupnya sosok fenomenal ini sepertinya sudah menunaikan ibadah Haji.

Lalu kenapa Sulaiman justru menyebut dirinya sebagai Raja Bima, kenapa tidak menyebut dirinya sebagai putera Sultan Bima (?). Perlu dicatat, bahwa pada masa awal-awal merintis Kerajaan Islam, gelar Sultan belum serta merta digunakan sebagai gelar, penamaan tersebut muncul kemudian sebagai akibat dari politik identitas yang dilakukan oleh seluruh mubaligh dan guru spiritual para Raja, gelar Sultan sendiri muncul dari Malaka (Samudera Pasai). Dan setahu Sulaiman, ayahnya adalah seorang Raja Nagari Bima.
Betapa kedalaman spiritual dan kecintaannya pada ilmu agama itulah yang membuatnya mendapat gelar Bekel Jamus, Bekel dalam istilah Jawa adalah setara Pamong Desa atau seorang pembantu Ulama; sedangkan Jamus berarti azimat, jadi pencantuman itu dinobatkan karena kekeramatan beliau sebagai seorang Ulama dan Pemimpin wilayah. Inilah yang memikat hati Kyai Wiroyudo untuk mempersuntingkan puterinya Derpayuda dengan Sulaiman. Dari pernikahan inilah kemudian kalangan bangsawan Jawa menyebutnya dengan Kyai Sulaiman.

Meskipun kita membutuhkan penelusuran-penelusuran secara ilmiah, namun dari fakta fenomonologis ini dapat terlihat sebuah gambaran, bahwa Abdul Kahir sejak mudanya sudah mempunyai kontak-kontak awal yang akrab dengan beberapa santri dari Jawa, termasuk adanya kemungkinan persahabatannya dengan santri langsung dari Sunan Prapen seperti Sayyid Ali Murtadho’ yang diutus Sunan Prapen pada akhir abad ke XVI ke pulau Sumbawa, dari sinilah kemudian Abdul Kahir mempelajari Islam secara mendalam (atau boleh jadi, Abdul Kahir adalah seorang pemuda Bima yang pernah ditempa secara khusus oleh beberapa santri Sunan Giri di Gresik). Dari sinilah saya makin menguatkan dugaan, bahwa Kyai Sulaiman yang disebut-sebut sebagai leluhur Pangeran Diponegoro dan dicatat dalam beberapa dokumen silsilah Raja Berbek maupun wilayah Jawa lainnya, tidak lain adalah putera pertama dari Abdul Kahir, sehingga dia tepatnya bernama HAJI SULAIMAN BIN ABDUL KAHIR. Dan bersaudara lain ibu dengan Abi’l Khair Sirajuddin. Antara Sulaiman dengan Sirajuddin sepertinya berselisih jauh usianya sekitar 19 tahun.

Dari pernikahannya dengan puteri dari Kyai Wiroyudho, Haji Datuk Sulaeman dianugerahi empat orang anak, yakni :
  1. Nyai Sontoyudo 
  2. Nyai Honggoyudo 
  3. Kyai Derpoyudo 
  4. Nyai Damis Rembang

 Lihat : Sejarah Nganjuk (http://www.nganjukkab.go.id)

Dari Kyai Ageng Derpayuda inilah, transmisi genetik ini kemudian berkembang melahirkan Ki Ageng Tegalrejo, ayah dari Raden Ayu Mangkarawati (dipersunting oleh Sultan Hamengkubuwono III) yang tidak lain merupakan ibu kandung Pangeran Diponegoro.

Sedangkan dari puterinya Nyai Hanggayuda, melahirkan generasi Raja di wilayah Berbek-Godean, yakni Raden Ayu Tumenggung Sosronegoro, selanjutnya Raden Ayu Tumenggung Sosronegoro I menjadi Bupati Grobongan (mempunyai putra sebanyak 30 orang), salah satunya Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I (Bupati Berbek).

Dari gambaran inilah kemudian kita tidak perlu terkejut ketika membaca sejarah pemberontakan Trunojoyo. Seperti yang sudah dikupas oleh sejarah, bahwa Trunojoyo adalah seorang pangeran dari Madura yang memerangi Amangkurat I dan Mataram yang dituding bekerjasama dengan VOC. Pada kesempatan itu, Raden Trunojoyo disebutkan mendapat dukungan dari blok spiritual Panembahan Giri di Surabaya dan bala bantuan dari Karaeng Galesong Makassar, termasuk di dalamnya Sultan Abil Khair Sirajuddin sendiri ikut memberikan dukungan, ini bukan tidak beralasan, karena Kyai Sulaiman menjadi simpul pemersatu transmisi ideologis empat kutub sekaligus yakni Panembahan Giri, Madura, Gowa dan Bima. Kyai Sulaimanlah yang kemudian mendekatkan hubungan emosional antara Pangeran Trunojoyo, Karaeng Galesong dan Abi’l Khair Sirajuddin dalam semangat jihad yang sama untuk melawan Belanda. Pemberontakan tersebut terjadi pada tahun 1676 M, dan Kyai Sulaiman –kalaupun masih hidup- sudah berusia ±75 tahun. Mungkin karena beliau yang dituakan, sehingga tidak sulit untuk mempengaruhi adik-adiknya sendiri. Di kemudian hari, sejarah pun mencatat bahwa Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah (putera dari Abi’l Khair Sirajuddin) juga menuntut ilmu selama enam tahun di tanah Jawa (Kerajaan Mataram), sebelum dikukuhkan menjadi Sultan Bima menggantikan ayahnya. Dalam urutan silsilah, Kyai Sulaiman adalah Ua’ dari Sultan Nuruddin, boleh jadi Sultan Abi’l Khair Sirajuddin menitipkan Nuruddin kepada saudara tuanya.


 
Dugaan Kedua : SULAIMAN KETURUNAN RATO CINGI

Dalam penjabaran silsilah Raja-Raja Bima sebelum Islam, terdapat nama La Suleiman yang merupakan keturunan pejabat Rato Cingi. Menurut penjelasan silsilah Bo’ Sangaji Kai, Rato Cingi adalah keturunan dari Mambora Ese Taja yang mempermasurikan anak perempuan Dewa Dalam Bata Ncandi, anak perempuan dari Dewa Bata Ncandi ini diperanakkan (dibesarkan) di kerajaan Majapahit.  Mambora Ese Taja melahirkan Dewa Hyang Nyata di Saruhu, Dewa ini melahirkan Dewa Bata Lambu, lalu Bata Lambu melahirkan Bata Bou, yang memiliki 30 orang anak, 20 puluh laki-laki dan 10 perempuan. Dari 30 bersaudara inilah kemudian melahirkan Manggampo Donggo, Bilmana dan Mambora Ba Pili Tuta.

Mambora Ba Pili Tuta melahirkan beberapa orang anak, salah satunya adalah Rato Manggegiri, yang merupakan kakek buyut dari Tureli Belo yang melahirkan Sulaiman. Bangsa Rato Cingi sendiri sangat identik dengan Majapahit, hal tersebut bisa terungkap dari silsilah ke bawah dari Rato Cingi sebagai berikut :


  1. Perempuan, Inilah Dewa diperanakkan di Majapahit, ialah asal bangsa Rato Cingi, cucu daripada anak perempuan oleh Sebangi Ama Cuna. 
  2. Perempuan, inilah anaknya Dewa diperanakkan di Majapahit, Rato Cingi yang kemudian lagi. 
  3. Laki-Laki, Anak Rumata yang dibunuh oleh orang mencuri, ialah Mambora Ba Iso di Dompu. 
  4. Perempuan, Cucu dewa diperanakkan di Majapahit, Rato Cingi lagi. 
  5. Laki-Laki, Cucu daripada anak perempuan oleh Rumata Tureli itu, ia lagi cucu daripada anak laki-laki oleh Rumata Mawa’a Taho di Dompu anak mabora Balonde Ombo, naik kerajaan dalam tanah Dompu. 
  6. Laki-Laki, Cucu daripada anak perempuan oleh Rato Cingi, maka beranak empat orang, dua perempuan dua laki-laki. Maka yang pertama isterinya Rato Waro Nggau, anak Rumata Mawa’a Ndapa, ialah bunda waro siri. Dan seorang lagi isterinya cucu daripada anak laki-laki Rumata Mambora Aka Ramba Ranggo, ialah Bunda Waro Suma, dan [yang laki-laki] Tureli Donggo dan Tureli Belo ayahnya La Suleiman. Ompu Mambora Ba Rige diperistrikan Rato Waro Siri maka beranak tiga perempuan, ialah bunda Tureli Woha empunya kubur di Muku dan Rato Lewi empunya kubur di Pane, dan Bumi Punti bernama La Nggawu, dan Bumi Donggo Bolo bernama Ladu.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang siapa Tureli Belo dan anaknya La Suleiman yang disebut dalam turunan silsilah di atas. Dari uraian itu saya menguraikan beberapa point penting :

  • Bahwa Rato Cingi bukanlah nama orang, melainkan adalah sebuah jabatan yang diembankan kepada salah satu keturunan dari Dewa yang Nyata di Saruhu. 
  • Rato Cingi adalah sebuah klan besar yang bertalian erat dengan Nggampo Jawa, serta berhubungan langsung dengan Majapahit. 
  • Semenjak Bima menjadi Kesultanan, klan Rato Cingi dihilangkan dalam struktur hadat kerajaan, tetapi sebagian orang diberikan jabatan sepadan sebagai bentuk kompromi politik antara beberapa klan yang berkepentingan pasca kudeta Bima terjadi. Sedangkan sebagian lagi justru memilih untuk kembali ke Jawa. 
  • Sultan-sultan Bima dan para penutur sejarah lama mungkin tidak tahu tentang siapa La Suleiman yang mereka tulis itu, karena dalam silsilah resmi Raja Bima sebelum kesultanan, justru muncul nama-nama Islami seperti Wahid, Brahim dan Suleiman sendiri. Bahkan, butir keterangan tersebut hanya tertulis dalam margin dan agaknya merupakan koreksi atas keterangan yang disalin dalam teks sebelumnya. Sehingga penyebutan Tureli Donggo dan Tureli Belo ayahnya La Suleiman merupakan usulan yang disisipkan kemudian.
Oleh karena itu, kesimpulan saya yang kedua ialah, bahwa Datuk Haji Sulaiman yang muncul dalam catatan Jawa ialah putera dari Tureli Belo, yang dilahirkan dalam keturunan keempat Klan Rato Cingi, dari namanya saja dengan label Rato menunjukkan bahwa mereka adalah pemegang kendali penting dalam Kerajaan Bima. Hanya saja, silsilah ini menjadi kabur karena hanya nama Suleiman yang muncul dengan nama Islami, sisanya semua masih menggunakan nama-nama julukan lama orang Bima.

Mudah-mudahan catatan ini bermanfaat bagi para sejarawan untuk menelusuri lebih jauh tentang asal muasal Kyai Suleiman Bekel Jamus yang menjadi salah satu tokoh penting leluhur Raja-Raja Berbek di Nganjuk.

Sebagai wujud penghormatan kita pada jasa-jasanya mengembangkan Islam dan meretas keturunan bangsawan-bangsawan Jawa, alangkah indahnya jika posting ini kita tutup dengan sama-sama mengirimkan Al Faatihah kepada Almarhum Haji Datuk Sulaiman Al Bimawi. Al Faatihah !!!


Sumber Tambahan : BO' Sangaji Kai (Henry Chambert-Loir & Siti Maryam R. Salahuddin)

1 comment:

Anonymous said...

iya ya..