Saturday, November 26, 2011

SEJARAH LAHIR NU DI BIMA

Jauh sebelum PMII hadir di Bima pada tahun 2003, sebenarnya Nahdlatul Ulama sudah lebih lama berkembang di daerah ini. Menurut catatan sejarah lokal, NU secara struktural hadir di Bima pada tahun 1936. Pada Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, NU menetapkan bahwa Indonesia yang saat itu masih dikuasai Pemerintah Hindia Belanda adalah darul Islam (negeri Islam), pertimbangan NU bahwa masyarakat Islam di kawasan Nusantara dapat menjalankan agamanya dan melaksanakan hukum Islam tanpa terusik meskipun secara formal kekuasaan politik berada di tangan Hindia Belanda. Selain itu, hampir di semua wilayah pemerintahan masih di bawah sistem Kesultanan yang tentunya sebagian besar penduduknya beragama Islam.

Pada Muktamar ke 11 di Banjarmasin, struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama masih bernama Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama atau disingkat dengan HBNO dengan Presiden Tanfidziyahnya KH. Machfudz Shiddiq.

Di Kesultanan Bima pada masa itu, hubungan dengan para Ulama dan Habaib di Betawi dan Banten sudah terbangun sejak lama, karena secara tradisi keislaman yang diterapkan dalam masyarakat Bima sangat selaras dengan nilai ahlussunnah wal jama’ah yang dikembangkan oleh NU. Bagi kesultanan Bima, pilihan menerapkan Islam Aswaja (atau disebut juga Ajaran Dua Belas) adalah keniscayaan demi menyelamatkan tradisi dan fondasi kesultanan yang terbangun selama beratus-ratus tahun. Sultan Muhammad Salahuddin yang pada masa itu memimpin kerajaan Bima, kemudian mengundang beberapa Ulama dari HBNO untuk mengadakan safari dakwah di Bima atas jaminan kerajaan.

Adalah Syaikh Hasan Sahab yang diutus dari HBNO untuk menjalankan misi tersebut ke pulau Sumbawa, dengan tujuan agar jamiyyah Nahdlatul Ulama bisa dirintis di daerah tersebut. Ini adalah amanat Muktamar Banjarmasin yang harus dijalankan sebagai upaya penyatuan persepsi kerajaan-kerajaan Islam dalam menghadapi hegemoni Belanda di wilayah nusantara.
Setelah menyelesaikan sebahagian agenda di Kerajaan Sumbawa, Syekh Sahab kemudian hadir di Bima, sesuai undangan Sultan pula, Syekh Sahab dan beberapa Ulama Bima melakukan perjalanan syiar keliling di wilayah kesultanan Bima, selanjutnya bertempat di Istana Bima, Hoofd van de Branch Nahdlatoel Oelama van Bima dibentuk dengan susunan kepengurusan :

  • Rois Akbar           : Sulthan Muhammad Salahuddin 
  • Tanfidziyah          : Nasaruddin, diganti oleh KH. Usman Abidin 
  • Wakil                    : Abdullah Teta Hafsah 
  • Sekretaris             : Haji Sulaiman 
  • Bendahara            : Haji Sanuddin 
  • Anggota                : Zakariah Landrente (Urusan Haji) dan,
  • Anggota                : Haji Said (Urusan Pengajaran).

Pada masa-masa awal rintisannya di Bima, Nahdaltul Oelama hanya menjalankan kegiatan-kegiatan dakwah dan pengajian keliling, lalu pada tahun-tahun berikutnya dibentuk pula sayap kepanduan Anshor Nahdlatoel Oelama (ANO) yang diprakarsai oleh Muhammad Hasyim Ruma Sangga, M. Saleh Ntobu dan Ruma Aye.

Sumber Tambahan : Sejarah Bima Dana Mbojo (H. Abdullah Tajib, BA)

Catatan : Sultan Muhammad Salahuddin tidak lain adalah kakek dari H. Ferry Zulkarnain, ST yang menjadi Bupati Bima saat ini. Sedangkan Haji Sanuddin adalah kakek dari Drs. H. Zainul Arifin yang merupakan Bupati Bima periode 2000 – 2005.

No comments: