Monday, May 9, 2016

QUO VADIS SENIMAN BIMA (Emperan Amahami)

Menjadi seniman itu seharusnya bukanlah suatu obsesi atau tujuan dalam berkarya. Seniman adalah sebuah identitas yang dilekatkan oleh publik pada diri seseorang yang mewakafkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam meretas karya-karya estetika. Sebagai seorang 'pengamen', saya akan tetap menolak label 'seniman' disandangkan pada diri saya, karena itu adalah suatu amanah yang akan terus diuji oleh manusia dan waktu, bahkan akan senantiasa diuji Tuhan.

Seni adalah kemerdekaan dalam berkarya, bagaimana menciptakan karya bernilai estetika yang tetap menjunjung tinggi etika dan moralitas. Apalagi, menjadi seniman Bima bukan hanya sekedar dinilai dengan aktifitas di dunia yang "mengatasnamakan" seni dan kebudayaan. Seorang dosen pada fakultas kesenian, tidak serta merta menjadi seorang seniman. Pun sebaliknya, begitu banyak orang yang bertalenta seni namun luput untuk disebut seniman.

Ya, siapa sesungguhnya yang pantas disebut sebagai seniman Bima?

Oleh karena itu, Mari berlomba-lomba menciptakan karya, berkreasi tanpa saling mencibir dan mencaci, memaklumi dan saling mengapresiasi. Seorang pelukis tidak boleh iri pada seorang penyair, seorang penyair tak boleh cemberut pada karya seorang novelis, dan novelis jangan picik melihat seorang musisi.